JENIS-JENIS ALUR



Struktur alur sendiri tidaklah seragam sehungga banyak model dalam penulisan cerpen. Hal ini sesuai dengan pendapat Bahrudin, dkk (2006: 14) yaitu:
a)      Alur maju atau  progresif yaitu pengungkapan cerita dari sudut peristiwa-peristiwa yang terjadi dari masa kini ke masa  yang akan datang.
b)      Sorot balik atau regreasif yaitu pengungkapan cerita dari sudut peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya atau masa lampau ke masa kini.
c)      Alur campuran yaitu pengungkapan cerita kadang-kadang peristiwa yang terjadi pada masa kini dan masa lampau kemudian kembali menceritakan masa kini.
Mengenai jenis-jenis alur ini, N. Friedman dalam Tarigan (1982: 151) pernah membuat klasifikasi yang agak terperinci seperti yang terlihat pada gambar  di bawah ini.
Alur gerak
Alur pedih
Alur tragis
Alur peruntungan:                   Alur penghukuman
Alur sinis
Alur sentimental
Alur kekaguman         
                                                                                                Alur kedewasaan
Alur:                            Alur penokohan:                     Alur perbaikan       
                                                                                                Alur pengujian
                                                                                                Alur pendidikan
                                                                                                Alur pembukaan rahasia
                                                Alur pemikiran:                       Alur perasaan sayang
                                                                                    Alur kekecewaan

Berikut ini akan diadakan pembicaraan seperlunya mengenai pengertian setiap jenis alur tersebut beserta contoh-contohnya: 

1.      Alur gerak
Dalam bahasa Inggris alur gerak ini disebut the action plot. Satu-satunya pertanyaan yang diajukan oleh para pembaca pada saat pembaca suatu fiksi yang mengandung alur ini adalah “Apa yang akan tejadi berikutnya?”
Alur disusun di sekitar suatu masalah dan pemecahannya: menggrebeg seorang bandit, menemukan seorang pembunuh, mendapatkan harta karun mencapai planet lain.
2.      Alur pedih
Alur pedih ini disebut the pathetic plot dalam bahasa Inggris. Serangkaian musibah atau kemalangan menimpa seorang pelaku utama yang cantik atau ganteng tetapi lemah. Dia tidak pantas menderita kemalangan tersebut. Cerita ini berakhir dengan kesedihan, kepedihan dan menimbulkan rasa kasihan dari para pembaca.
3.      Alur tragis
Alur tragis ini dalam bahasa inggris disebut the tragic plot. Sang pelaku utama yang (masih) ganteng, dalam beberapa hal bertanggungjawab terhadap kemalangan yang menimpa dirinya sendiri, tetapi dia tidak mengetahui hal ini sejak semula. Dia justru mengetahui hal itu lama kemudian, tetapi sudah terlambat. Karenanya, para pembaca mengalami katarsis, perasaan terharu.

4.      Alur penghukuman
Dalam alur penghukuman atau the punitive plot ini, sang pelaku tidak dapat menarik rasa simpati para pembaca, walaupun dia sebenarnya mengagumkan dalam beberapa hal. Dalam beberapa kualitas (kerapkali dalam hal-hal yang jelek), Dalam beberapa kualitas (kerapkali dalam hal-hal yang jelek), cerita berakhir dengan kegagalan sang pelaku utama.     
5.      Alur sinis
Jenis alur ini sebenarnya tidak dikemukakan oleh Friedman secara eksplisit, tetapi secara logika dapat dimasukkan ke dalam kategori ini. Seorang tokoh utama, tokoh inti yang “jahat” memperoleh kejayaan pada akhir cerita, yang justru sepantasnya harus mendapat hukuman.
6.      Alur sentimental
Alur sentimental atau the sentimental plot ini pada dasarnya, dalam konklusinya merupakan kebalikan dari alur melodramatis. Sang pelaku utama, yang ganteng, yang cantik, dan seringkali lemah, mengalami serangkaian kemalangan, tetapi justru memperoleh kemenangan atau kejayaan di akhir cerita.
7.      Alur kekaguman
Alur kekaguman atau the admiration plot adalah kebalikan dari alur tragis. Pelaku utama, kuat, gagah, dan bertanggungjawab atas tindakan-tindakannya, mengalami serangkaian marabahaya tetapi dapat melawan serta mengalahkannya pada akhir cerita. Response para pembaca merupakan gabungan rasa hormat dan rasa kagum atas sang pelaku utama.
8.      Alur kedewasaan
Dalam alur kedewasaan atau the maturing plot ini, sang pelaku utama, yang memang ganteng dan menarik, justru tidak berpengalaman dan bersifat kekanak-kanakan. Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itulah yang memungkinkan sang pelaku menjadi matang, menjadi dewasa.
9.      Alur perbaikan
Seperti yang terdahulu, sang pelaku utama mengalami perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Akan tetapi, dalam alur ini, alur perbaikan atau the reform plot, sang pelaku utama sendiri yang bertanggungjawab penuh atas kemalangan-kemalangan yang mengganggu atau yang menyela kariernya. Jadi, selama bagian cerita tertentu itu, para pembaca mengingkarinya sebagai suatu keharusan.
10.  Alur pengujian
Dalam alur pengujian atau the testing plot ini, semua inisiatif sang pelaku utama gagal satu demi satu. Dalam lingkaran kegagalan-kegagalan tersebut, sang pelaku utama ini meninggalkan serta mengingkari cita-citanya sendiri.
11.  Alur pendidikan
Dalam alur pendidikan atau the education plot ini, terjadi perbaikan atau peningkatan pandangan pelaku utama yang ganteng serta cakap itu. Alur ini agak mirip-mirip dengan alur kedewasaan, tetapi dalam hal ini perubahan batiniah tidak mempengaruhi perilaku aktual sang tokoh.
12.  Alur pembukaan rahasia
Pada mulanya, sang pelaku utma tidak mengetahui kondisi-kondisinya sendiri. Lama-kelamaan dalam proses jalannya cerita, sang tokoh utama dapat menyikapkan, membukakan rahasia pribadinya sendiri. Inilah kira-kira inti pokok permasalahan yang terdapat pada alur pembukaan rahasia atau revelation plot.
13.  Alur perasaan sayang
Dalam alur perasaan sayang atau the effective plot, baik sikap-sikap maupun keyakinan-keyakinan sang pelaku utama berubah, tetapi falsafah (hidup)-nya tidak berubah.
14.  Alur kekecewaan
Alur kekecewaan atau the disillusionment plot adalah kebalikan dari alur pendidikan. Sang tokoh kehilangan idamannya yang indah, dan jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Pada akhir cerita, para pembaca hanya sebentar saja bersimpati kepadanya, dan selanjutnya diliputi kekecewaan. 
Sumber: 

Bahruddin, dkk.2006. Kamus Pintar Plus Bahasa Indonesia. Bandung: Epilson Grup.

Tarigan, Prof.DR. Guntur.1982. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.



Share on Google Plus

About Dewi Sartika

Bintang Berpuisi adalah sebuah weblog bebas dan mencoba untuk jadi orang keren di Medan
    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 comments:

KOMENTAR DI SINI
BUKAN SPAM DI SINI YA :)