PEMBELAJARAN; JENIS-JENIS KALIMAT

 Jenis-jenis Kalimat - Kali ini aku akan berbagi mengenai pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu jenis-jenis kalimat. Yuk, dibaca artikel berikut jika ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan ya.  

Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang. Adapun jenis- jenis kalimat adalah sebagai berikut:

a.       Kalimat Sederhana
Kalimat sederhana adalah kalimat yang dibentuk oleh fungsi- fungsi pokok, yakni terdiri atas subjek, predikat,  dan objek. Kalimat sederhana sering pula disebut kalimat inti.
Contoh: Halaman itu luas.
b.      Kalimat Kompleks
Kalimat kompleks adalah kalimat yang telah mengalami perluasan, baik ituberupa penambahan fungsi keterangan ataupun dengan perluasan pada fungsi- fungsinya. Kalimat kompleks dapat terdiri atas satu klausa ataupun dua klausa.
Contoh: Halaman rumah pak Mahmud luas sekali.
c.       Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang mengandung satu unsur pusat. Unsur pusat yang sering digunakan dalam kalimat minor berupa predikat. Kalimat minor biasanya digunakan sebagai jawaban atas suatu pertanyaan, sebagai perintah ataupun seruan.
Contoh: Kemarin sore (sebagai jawaban atas pertanyaan Kapan paman datang?)
d.      Kalimat Mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang- kurangnya mengandung dua unsur utama, yakni bisa terdiri dari subjek dan predikat ( S-P) atau subjek, predikat, objek ( S-P-O); atau pun lebih dari itu, misalnya dengan disertai keterangan ( S-P-O-K).
Contoh: Ayu akan pergi hari minggu.
e.       Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya melakukan suatu pekerjaan. Berdasarkan hubungan antara predikat dengan objeknya, kalimat aktif dapat dibagi ke dalam empat kelompok sebagai berikut:
1)      Kalimat aktif transitif, yaitu kalimat aktif yang predikatnya memerlukan objek.
2)      Kalimat aktif semitransitif, yaitu kalimat yang predikatnya memerlukan pelengkap.
3)      Kalimat aktif dwitansitif, yaitu kalimat aktif yang memerlukan objek dan pelengkap secara sekaligus.
4)      Kalimat aktif intransitif, yaitu kalimat aktif yang  tidak memerlukan objek ataupun pelengkap.
f.       Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan.
Contoh.: Majalah itu dibeli ibu di toko buku.
g.      Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang secara cermat menirukan sesuatu yang diujarkan orang. Bagian kutipan dalam kalimat langsung ada berupa kalimat Tanya, kalimat berita, atau pun kalimat perintah.
Contoh: “Jangan berisik,” kata kak Ida.
h.      Kalimat Tak Langsung
Kalimat tak langsung adalah kalimat yang melaporkan sesuatu yang diujarkan orang. Bagian kutipan dalam kalimat tak langsung semuanya berbentuk kalimat berita.
Contoh: Kak Ida berkata kepada teman – teman Lusi jangan berisik kalau belajar.
i.        Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola kalimat atau satu klausa. Pola kalimatnya itu dibentuk oleh subjek dan predikat. Ada pula yang lebih lengkap yaitu, terdiri atas subjek, predikat, objek, pelengkap serta terdapat pula unsur keterangan.
 Contoh: Paman akan datang.
j.        Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah  kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau dua klausa atau lebih. Kalimat majemuk dapat dibentuk dari paduan beberapa buah kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.
1)      Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang hubungan antara unsur-unsurnya bersifat setara atau sederajat.
Contoh: Ibu menjahit baju dan ayah membaca Koran.
2)      Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antara unsur- unsurnya tidak sederajat. Salah satu unsurnya menduduki induk kalimat, sedangkan unsur yang lain sebagai anak kalimat.
Contoh: Ayu datang ketika Rani mengerjakan pekerjaan rumahnya.
3)      Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat. Dalam kalimat majemuk campuran sekurang–kurangnya terdapat tiga inti kalimat atau tiga klausa. 
Contoh: Pekerjaan itu telah selesai ketika paman datang dan ibu selesai memasak.
k.      Kalimat elips
Kalimat elips adalah kalimat yang dibentuk dari sebuah klausa yang tidak lengkap. Klausa dalam kalimat elips ini mungkin tidak bersubjek, tidak berpredikat, dan mungkin juga tidak memiliki subjek dan predikat, yang ada hanya keterangan saja. Kalimat elips ini bisa terjadi kalau situasi dan konteks pertuturan itu secara keseluruhan sudah diketahui oleh orang- orang yang terlibat dalam pertuturan itu. Misalnya dalam tanya jawab, dalam diskusi, dan sebagainya.
Contoh:  berangkatlah!
l.        Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat  yang isinya menyatakan berita atau pernyataan untuk diketahui oleh orang lain (pendengar atau pembaca). Kalimat berita ini dibentuk dari sebuah klausa, dua buah klausa, tiga buah klausa, atau lebih dalam wujud kalimat sederhana, kalimat luas, maupun kalimat kompleks sesuai dengan besarnya atau luasnya isi berita yang ingin disampaikan.
Contoh: Harga bahan pangan seperti bawang, cabai dan beras melonjak naik.
m.    Kalimat Tanya
Kalimat tanya  adalah kalimat yang isinya mengharapkan reaksi atau jawaban berupa pengakuan,keterangan, alasan, atau pendapat dari pihak pendengar atau pembaca. Dilihat dari reaksi jawaban yang diharapkan kalimat tanya dibedakan menjadi:
1.      Kalimat tanya yang meminta pengakuan atau jawaban ya atau tidak.
Contoh: Mereka sudah berangkat?
2.      Kalimat tanya yang meminta keterangan mengenai salah satu unsur kalimat.
Contoh: Siapa nama ibu guru baru itu?
3.      Kalimat tanya yang meminta alasan.
Contoh: Mengapa semalam kamu tidak masuk sekolah?
4.      Kalimat tanya yang meminta pendapat atau buah pikiran orang lain.
Contoh: Dulu dia pernah menipu kita, kalau sekarang dia menipu lagi, bagaimana?
5.      Kalimat tanya yang menyungguhkan.
      Contoh: Rani berasal dari Surabaya, bukan?
n.      Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang isinya mengharapkan  seseorang untuk melakukan  suatu tindakan atau perbuatan yang diucapkan oleh pembicara.  Dilihat dari taraf tindakan yang diharapkan kalimat perintah dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu kalimat perintah yang tegas, kalimat perintah yang biasa, dan kalimat perintah yang halus.
1.      Kalimat perintah yang tegas dibentuk dari sebuah klausa tidak lengkap, biasanya hanya berupa kata kerja dasar, disertai dengan intonasi kalimat perintah. Dalam bahasa tulis intonasi kalimat perintah ini dilambangkan dengan tanda seru.
Contoh: Tulis!
2.      Kalimat perintah yang biasa dibentuk dari sebuah klausa berpredikat kata kerja dasar yang diberi partikel lah, serta  menanggalkan subjeknya.
Contoh: Datanglah tepat waktu!
3.      Kalimat perintah yang halus harus digunakan oleh yang lebih muda kepada yang lebih tua, yang lebih rendah status sosialnya terhadap yang lebih tinggi atau yang lebih berkuasa, juga untuk menampilkan rasa hormat ata sopan santun terhadap orang yang diperintah.
Contoh: Tolong menunggu sebentar!
o.      Kalimat Larangan
Kalimat larangan adalah kalimat yang isinya mengharapkan seseorang untuk tidak melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Oleh karena itu, dalam kalimat larangan harus digunakan kata  jangan, dilarang, dan tidak atau tidak boleh. Sama halnya dengan kalimat perintah, kalimat larangan juga ada yang bersifat tegas,  bersifat biasa, dan bersifat halus.
1.      Kalimat larangan yang bersifat tegas biasanya digunakan untuk mencegah tejadinya perbuatan atau peristiwa yang berbahaya menyangkut keselamatan jiwa, atau digunakan oleh pihak yang lebih tua, lebih tinggi status sosialnya atau lebih berkuasa terhadap pihak yang lebih muda, lebih rendah status sosialnya atau lebih lemah.
Contoh: Dilarang merokok!
2.      Kalimat larangan yang bersifat biasa digunakan untuk mencegah terjadinya suatu tindakan atau perbuatan yang jika dilakukan tidak terlalu berbahaya. Kalimat larangan yang biasa ini dibentuk dari sebuah klausa yang diawali dengan kata jangan atau tidak boleh.
Contoh: Jangan berdiri di depan pintu!
3.     Kalimat larangan yang bersifat halus digunakan oleh yang lebih muda, yang lebih rendah kedudukan atau status sosialnya terhadap yang lebih tua, lebih tinggi status atau kedudukan sosialnya, juga untuk menampilkan rasa hormat atau sopan santun kepada orang yang dilarang. Selain menggunakan kata- kata larangan, digunakan juga kata- kata sebaiknya, hendaknya, mohon, dan sebagainya.
Contoh: Sebaiknya Anda tidak duduk di sini!
p.      Kalimat Seruan
Kalimat seruan adalah kalimat yang digunakan untuk menyatakan emosi atau perasaan batin yang biasanya terjadi secara tiba-tiba. Misalnya, rasa terkejut, marah, kagum, gemas, kecewa, sedih, cemas, takut, tidak suka, benci, iba, dan sebagainya. Kalimat seruan dibentuk dengan menggunakan kata seru ditambah klausa yang menyatakan isi perasaan disertai dengan intonasi tertentu.
Contoh: “Wah, mahal sekali!” kata ibu karena terkejut. 


Sumber: 
Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. 


Kosasih, E. 2003. Ketatabahasaan dan Kesusastraan Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.

Share on Google Plus

About Dewi Sartika

Bintang Berpuisi adalah sebuah weblog bebas dan mencoba untuk jadi orang keren di Medan
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar

KOMENTAR DI SINI
BUKAN SPAM DI SINI YA :)